Aku dije bak warga setempat harus menikahi perempuan lusuh yang tinggal di gubuk tua. Namun, disaat malam pertama kami, aku dikejutkan dengan fakta baru tentang siapa sosok perempuan itu sebenarnya.

Namaku Raka. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan berubah hanya karena sebuah perjalanan singkat ke desa terpencil di kaki gunung. Awalnya aku datang hanya untuk memenuhi permintaan terakhir almarhum ayahku. Sebelum meninggal, beliau pernah berpesan agar aku mengunjungi Desa Kertajaya, sebuah desa kecil yang bahkan namanya hampir tidak pernah muncul di peta digital.

“Kalau suatu hari Ayah sudah tidak ada, datanglah ke sana. Cari seseorang bernama Pak Lurah Surya,” begitu pesan beliau.

Selama bertahun-tahun aku mengabaikan pesan itu. Aku terlalu sibuk bekerja di kota sebagai fotografer lepas. Hidupku dipenuhi gedung tinggi, suara kendaraan, dan lampu malam yang tidak pernah padam. Sampai akhirnya, setelah ibuku juga meninggal, aku merasa hidupku kosong. Aku mulai mengingat kembali pesan ayah.

Maka, pada suatu sore yang mendung, aku memutuskan pergi ke Desa Kertajaya.

Perjalanan menuju desa itu sangat melelahkan. Jalanan semakin sempit, sinyal telepon menghilang, dan hutan mulai menutupi kanan kiri jalan. Sopir angkot terakhir yang kutumpangi bahkan sempat menatapku aneh ketika aku menyebut nama desa itu.

“Mau ke Kertajaya?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk.

“Jarang ada orang luar ke sana. Kalau bisa, jangan keluar malam. Orang-orang di sana masih percaya banyak hal lama.”

Aku hanya tertawa kecil, menganggap itu sekadar cerita khas desa terpencil.

Ketika sampai di gerbang desa, matahari hampir tenggelam. Udara dingin menusuk kulit. Rumah-rumah kayu berdiri berjajar dengan lampu redup. Yang aneh, hampir semua warga yang kulihat langsung menghentikan aktivitas mereka dan memandangku dalam diam.

Aku mulai merasa tidak nyaman.

Seorang lelaki tua berjalan mendekat. Tubuhnya kurus, rambutnya putih semua.

“Kamu anaknya Arman?” tanyanya.

Aku terkejut mendengar nama ayahku.

“Iya. Saya Raka.”

Lelaki itu menghela napas panjang.

“Akhirnya kamu datang juga. Pak Lurah sudah menunggu.”

Aku dibawa menuju rumah terbesar di desa itu. Rumah panggung kayu dengan halaman luas. Di dalamnya duduk seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun dengan sorot mata tajam.

“Aku Surya,” katanya singkat.

Beliau mempersilahkanku duduk. Tanpa basa-basi, ia langsung menanyakan keadaan ayahku. Ketika kuberitahu bahwa ayah sudah meninggal dua tahun lalu, wajahnya berubah sedih.

“Arman sahabatku,” katanya pelan.

Aku merasa sedikit lega karena ternyata ayah memang memiliki hubungan dekat dengan desa itu.

Namun rasa lega itu tidak bertahan lama.

Pak Lurah tiba-tiba berkata, “Kalau begitu, kamu harus menyelesaikan janji ayahmu.”

Aku mengernyit.

“Janji apa?”

Suasana mendadak sunyi. Beberapa warga yang berada di ruangan itu saling berpandangan.

“Ayahmu pernah berjanji bahwa keluarganya akan membantu desa ini bila suatu hari dibutuhkan. Sekarang waktunya tiba.”

Aku semakin bingung.

“Membantu bagaimana?”

Pak Lurah menatapku lurus-lurus.

“Kamu harus menikahi seorang perempuan di desa ini.”

Aku spontan tertawa karena mengira itu lelucon.

Namun tidak ada seorang pun yang tertawa.

Jantungku mulai berdegup cepat.

“Maaf, saya tidak mengerti.”

“Perempuan itu bernama Laras,” jawab Pak Lurah. “Dia tinggal di ujung desa, di sebuah gubuk tua dekat hutan bambu.”

Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Ini tidak masuk akal. Saya baru datang ke sini. Saya bahkan tidak kenal siapa dia.”

“Kami tidak meminta persetujuanmu,” kata seorang warga dengan nada dingin.

Aku berdiri dari kursi.

“Kalau begitu saya pergi sekarang juga.”

Namun sebelum aku melangkah, Pak Lurah berkata pelan, “Kalau kamu pergi malam ini, kamu tidak akan selamat sampai keluar hutan.”

Aku terdiam.

Aku tidak tahu apakah itu ancaman atau peringatan.

Hujan mulai turun deras di luar. Jalanan yang tadi kulewati pasti sudah licin dan gelap. Mau tak mau aku menginap malam itu di rumah Pak Lurah.

Sepanjang malam aku tidak bisa tidur.

Keesokan paginya, beberapa warga mengajakku menemui perempuan bernama Laras.

Kami berjalan melewati sawah dan hutan bambu. Semakin jauh dari pusat desa, suasana semakin sepi. Hingga akhirnya aku melihat sebuah gubuk reyot berdiri sendirian di dekat sungai kecil.

Atapnya hampir roboh.

Di depan gubuk duduk seorang perempuan dengan pakaian sederhana dan rambut panjang yang sedikit berantakan. Wajahnya tertutup sebagian oleh bayangan.

Saat dia mengangkat kepala, aku terdiam.

Perempuan itu sebenarnya cantik.

Matanya tajam namun menyimpan kesedihan mendalam.

“Ini Laras,” kata Pak Lurah.

Laras tidak mengatakan apa pun.

Dia hanya menatapku beberapa detik lalu menunduk kembali.

Aku merasa ada sesuatu yang aneh.

Bukan karena penampilannya.

Melainkan karena suasana di sekitar gubuk itu terasa berbeda. Udara lebih dingin. Bahkan suara burung pun tidak terdengar.

“Kenapa dia tinggal sendirian di sini?” tanyaku.

Tidak ada yang menjawab.

Pak Lurah malah berkata, “Pernikahan akan dilakukan tiga hari lagi.”

Aku hampir kehilangan kesabaran.

“Saya tidak mau!”

Namun Laras tiba-tiba berbicara untuk pertama kalinya.

“Kalau kamu menolak, akan ada banyak orang yang terluka,” katanya pelan.

Suaranya lembut tetapi membuat bulu kudukku merinding.

Aku menatapnya.

“Apa maksudmu?”

Dia tidak menjawab.

Sejak hari itu, hidupku berubah menjadi aneh.

Warga desa memperlakukanku seperti tamu penting sekaligus tahanan. Mereka selalu mengawasi gerak-gerikku. Aku tidak bisa keluar desa karena jembatan utama tiba-tiba rusak akibat hujan deras.

Pada malam kedua, aku mendengar suara gamelan samar dari arah hutan.

Ketika kutanya kepada warga, mereka hanya berkata, “Jangan keluar setelah tengah malam.”

Rasa penasaranku semakin besar.

Malam itu aku nekat keluar diam-diam.

Kabut turun tebal. Suara gamelan terdengar semakin jelas. Aku mengikuti suara itu sampai ke dekat hutan bambu.

Di sana, aku melihat sesuatu yang membuat napasku tercekat.

Puluhan warga desa berdiri melingkar sambil membawa obor.

Mereka seperti sedang melakukan ritual.

Di tengah lingkaran itu berdiri Laras.

Namun penampilannya berbeda.

Dia mengenakan pakaian putih bersih dan rambutnya tersisir rapi. Wajahnya terlihat sangat cantik.

Aku bersembunyi di balik pohon.

Seorang tetua desa membacakan sesuatu dalam bahasa yang tidak kupahami.

Lalu semua warga serempak menundukkan kepala ke arah Laras.

Aku benar-benar bingung.

Bukankah mereka tadi memperlakukannya seperti perempuan biasa yang tinggal di gubuk tua?

Kenapa sekarang mereka tampak begitu menghormatinya?

Tiba-tiba Laras menoleh tepat ke arah tempatku bersembunyi.

Matanya seolah bisa melihat menembus gelap.

Aku buru-buru mundur dan kembali ke rumah Pak Lurah.

Namun sejak malam itu, pikiranku tidak tenang.

Siapa sebenarnya Laras?

Dan kenapa ayahku terlibat dengan desa ini?

Dua hari kemudian, pernikahan sederhana itu akhirnya dilakukan.

Tidak ada pesta meriah.

Hanya beberapa warga berkumpul di balai desa dengan wajah serius.

Aku menjalani semuanya seperti orang linglung.

Sementara Laras tetap tenang sejak awal.

Setelah acara selesai, kami diantar kembali ke gubuk tua tempat Laras tinggal.

“Mulai malam ini kalian tinggal di sini,” kata Pak Lurah.

Aku hampir protes, tetapi semua warga langsung pergi begitu saja.

Malam mulai turun.

Aku duduk canggung di dalam gubuk yang remang-remang.

Laras menyalakan lampu minyak lalu duduk di dekat jendela.

Untuk beberapa menit, tidak ada yang berbicara.

Akhirnya aku memberanikan diri.

“Sebenarnya apa yang terjadi di desa ini?”

Laras tidak langsung menjawab.

Dia memandang keluar jendela seolah sedang mengingat sesuatu.

“Kamu percaya pada janji lama?” tanyanya.

“Tidak terlalu.”

Dia tersenyum tipis.

“Ayahmu berbeda.”

Aku terdiam.

“Apa hubungan ayahku denganmu?”

Laras memandangku lama.

“Dulu, sebelum kamu lahir, desa ini hampir hancur karena longsor besar. Banyak rumah tertimbun. Orang-orang kehilangan harapan. Ayahmu datang membantu bersama beberapa relawan.”

Aku terkejut karena ayah tidak pernah menceritakan itu.

“Saat itu ayahmu menyelamatkan seorang anak perempuan kecil dari sungai yang meluap,” lanjut Laras.

Jantungku mulai berdegup cepat.

“Anak itu… kamu?”

Laras mengangguk pelan.

“Sejak saat itu warga percaya ayahmu membawa keberuntungan untuk desa ini.”

Aku menghela napas lega.

Setidaknya tidak ada hal aneh seperti yang kubayangkan.

Namun Laras melanjutkan perkataannya.

“Tetapi setelah longsor itu, banyak kejadian aneh mulai muncul.”

Udara di dalam gubuk terasa semakin dingin.

“Orang-orang hilang di hutan. Sungai sering meluap tanpa sebab. Tanaman gagal panen. Warga percaya desa ini terkena kutukan lama.”

Aku mulai merasa cerita itu terlalu berlebihan.

“Lalu apa hubungannya dengan kita menikah?”

Laras menunduk.

“Menurut kepercayaan desa, kutukan itu hanya bisa berhenti bila garis keluarga penyelamat bersatu dengan penjaga desa.”

“Penjaga desa?”

Dia tersenyum pahit.

“Itu sebutan untukku.”

Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Semua ini terdengar seperti cerita kuno yang sulit dipercaya.

Namun sebelum aku sempat berkata apa-apa, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di luar gubuk.

Tok.

Tok.

Tok.

Aku menoleh ke arah pintu.

“Ada orang?” tanyaku.

Laras langsung berdiri dengan wajah tegang.

“Jangan buka pintu apa pun yang terjadi,” katanya cepat.

Suara ketukan terdengar lagi.

Kali ini lebih keras.

Tok! Tok! Tok!

Aku mulai merinding.

“Siapa itu?”

Laras memadamkan lampu minyak.

Gubuk langsung gelap gulita.

“Diam,” bisiknya.

Aku bisa mendengar napasnya yang mulai tidak tenang.

Di luar, suara langkah kaki berjalan mengelilingi gubuk.

Lantai kayu berderit pelan.

Lalu terdengar suara seseorang memanggil namaku.

“Raka…”

Tubuhku membeku.

Karena suara itu sangat mirip dengan suara ayahku.

Aku hampir berdiri untuk membuka pintu.

Namun Laras menggenggam tanganku erat.

“Itu bukan ayahmu,” bisiknya.

Aku menelan ludah.

Suara di luar kembali terdengar.

“Raka… buka pintunya…”

Aku mulai berkeringat dingin.

Bagaimana mungkin ada suara seperti itu?

Tiba-tiba sesuatu menggaruk dinding gubuk.

Kreeet…

Suara itu panjang dan pelan.

Aku tidak sanggup bergerak.

Selama hampir satu jam kami hanya diam dalam gelap sampai akhirnya suara itu menghilang.

Ketika suasana kembali tenang, Laras baru menyalakan lampu minyak.

Wajahnya terlihat pucat.

“Apa itu tadi?” tanyaku pelan.

Laras duduk perlahan.

“Itulah alasan warga takut keluar malam.”

Aku masih sulit mempercayai semua yang terjadi.

Namun malam itu menjadi awal dari banyak kejadian yang mengubah keyakinanku.

Hari-hari berikutnya, aku mulai tinggal bersama Laras.

Awalnya aku merasa canggung. Tetapi perlahan aku menyadari bahwa dia sebenarnya perempuan yang baik.

Dia rajin merawat kebun kecil di belakang gubuk. Dia juga sering membantu warga meski sebagian dari mereka masih menjauhinya.

Aku pernah bertanya kenapa dia tinggal sendirian di tempat terpencil.

Laras hanya menjawab singkat.

“Supaya yang lain tetap aman.”

Jawaban itu membuatku semakin penasaran.

Suatu sore aku membantu Laras mengambil air di sungai.

Di tengah perjalanan, beberapa anak kecil berlari menjauh ketika melihat kami.

“Mereka takut padamu?” tanyaku.

Laras tersenyum sedih.

“Sejak kecil aku dianggap berbeda.”

“Karena ritual itu?”

Dia tidak menjawab.

Namun saat itu aku melihat bekas luka aneh di pergelangan tangannya.

Bentuknya seperti pola melingkar.

Ketika aku mencoba bertanya, Laras langsung menutupi tangannya.

Malam harinya hujan turun sangat deras.

Aku terbangun karena mendengar suara orang menangis dari luar.

Ketika membuka mata, aku sadar Laras tidak ada di dalam gubuk.

Aku segera keluar.

Kabut sangat tebal.

Suara tangisan berasal dari arah hutan bambu.

Dengan membawa lampu minyak, aku mengikuti suara itu.

Semakin masuk ke hutan, udara semakin dingin.

Lalu aku melihat Laras berdiri di depan sebuah pohon besar.

Dia seperti sedang berbicara dengan seseorang.

Namun di sana tidak ada siapa-siapa.

“Laras!” panggilku.

Dia menoleh kaget.

“Kenapa kamu ke sini?”

Sebelum aku menjawab, tiba-tiba terdengar suara ranting patah dari belakang.

Aku menoleh cepat.

Di antara kabut, aku melihat sosok tinggi berdiri diam.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Tetapi matanya menyala samar.

Aku mundur pelan.

“Siapa itu?”

Laras langsung menarik tanganku.

“Kita harus pergi sekarang.”

Kami berlari kembali ke gubuk.

Sepanjang perjalanan aku merasa sosok itu mengikuti dari belakang.

Setelah sampai, Laras segera menutup semua jendela.

Aku mulai kehilangan kesabaran.

“Cukup! Jelaskan semuanya padaku!”

Laras terdiam lama.

Akhirnya dia berkata pelan, “Aku bukan penjaga desa karena pilihan.”

Aku menatapnya bingung.

“Apa maksudmu?”

Dia menarik napas dalam.

“Dulu ada seseorang yang mencoba membuka tempat terlarang di hutan ini. Setelah itu banyak kejadian buruk muncul. Sejak saat itu selalu ada satu orang yang dipilih untuk menjaga agar sesuatu itu tidak keluar.”

“Sesuatu?”

Laras memandangku dengan mata sendu.

“Aku tidak bisa menjelaskannya dengan mudah.”

Aku mulai merasa seluruh desa menyembunyikan rahasia besar.

Keesokan harinya aku diam-diam menemui Pak Lurah.

Aku menuntut jawaban.

Namun lelaki tua itu malah terlihat lelah.

“Kami sebenarnya tidak ingin melibatkanmu,” katanya.

“Lalu kenapa memaksaku menikah?”

Pak Lurah menatap keluar jendela.

“Karena Laras semakin lemah.”

Jantungku berdegup.

“Apa maksudnya?”

“Selama bertahun-tahun dia menjaga desa sendirian. Tetapi setiap penjaga memiliki batas. Kami percaya kehadiranmu bisa membantu menenangkan keadaan.”

Aku mulai marah.

“Jadi kalian menjadikan pernikahan ini seperti ritual?”

Pak Lurah tidak membantah.

Sebelum aku pergi, beliau berkata sesuatu yang membuat langkahku berhenti.

“Ayahmu sebenarnya pernah berjanji akan kembali. Tapi dia tidak sempat.”

Malam itu aku kembali ke gubuk dengan pikiran kacau.

Aku mulai mempertimbangkan untuk kabur dari desa.

Namun ketika melihat Laras duduk sendirian di depan gubuk sambil memandang hujan, aku merasa bersalah.

Entah kenapa, semakin lama aku mengenalnya, semakin aku merasa dia bukan orang jahat.

Dia hanya terlihat sangat kesepian.

Hari demi hari berlalu.

Aku mulai membantu Laras memperbaiki gubuk. Kami juga sering berbincang di malam hari.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke desa itu, aku merasa tenang.

Sampai akhirnya malam itu tiba.

Malam yang mengubah segalanya.

Hujan turun tanpa henti sejak sore. Angin bertiup sangat kencang.

Tiba-tiba terdengar bunyi kentongan dari arah desa.

Tok! Tok! Tok!

Suara itu terdengar panik.

Laras langsung berdiri.

“Mereka memanggilku,” katanya.

Kami bergegas menuju balai desa.

Di sana suasana kacau.

Seorang anak kecil hilang di dekat hutan.

Warga tampak ketakutan.

“Kabut hitam muncul lagi!” teriak seseorang.

Aku melihat wajah Laras berubah pucat.

Tanpa berkata apa-apa dia langsung berjalan menuju hutan.

Aku mengejarnya.

“Jangan ikut!” katanya.

Namun aku tetap mengikuti.

Kabut malam itu jauh lebih tebal dari sebelumnya.

Di tengah hutan, kami menemukan jejak kaki kecil menuju sebuah tempat tua yang dipenuhi batu besar.

Aku baru sadar tempat itu seperti reruntuhan kuno.

Di tengahnya ada lubang besar menyerupai sumur.

Udara dingin keluar dari sana.

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil menangis.

Laras mendekati sumur itu perlahan.

Lalu dari dalam kegelapan muncul bayangan hitam bergerak pelan.

Aku mundur ngeri.

Suasana menjadi sangat sunyi.

Laras berdiri di depan sumur sambil menutup mata.

Aneh sekali.

Angin di sekitarnya mendadak berhenti.

Rambutnya bergerak pelan meski udara diam.

Saat itulah aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

Pola melingkar di tangannya mulai bercahaya samar.

Bayangan hitam itu berhenti bergerak.

Kemudian suara tangisan anak kecil terdengar lagi dari balik batu.

Aku segera berlari dan menemukan anak yang hilang sedang bersembunyi sambil gemetar.

Aku menggendongnya menjauh.

Namun saat menoleh ke belakang, aku melihat Laras jatuh berlutut.

Bayangan hitam itu perlahan menghilang ke dalam sumur.

Aku segera menghampirinya.

“Laras!”

Tubuhnya sangat dingin.

Dengan susah payah kami kembali ke desa.

Sejak malam itu, kondisi Laras semakin memburuk.

Dia sering demam dan terlihat lemah.

Suatu malam, ketika dia tertidur, aku menemukan sebuah kotak kayu tua di bawah tempat tidurnya.

Di dalamnya terdapat foto lama.

Aku terkejut melihat foto itu.

Karena di sana ada ayahku berdiri bersama seorang anak perempuan kecil.

Anak itu adalah Laras.

Di belakang foto tertulis sebuah kalimat.

“Kalau suatu hari aku tidak kembali, jagalah dia seperti keluargamu sendiri.”

Tulisan itu jelas milik ayahku.

Dadaku terasa sesak.

Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa semua ini bukan kebetulan.

Ayah memang pernah terlibat jauh dengan desa ini.

Keesokan harinya aku menunjukkan foto itu kepada Laras.

Dia tersenyum lemah.

“Ayahmu orang baik,” katanya.

“Kenapa beliau tidak pernah menceritakan semua ini?”

Laras memandang keluar jendela.

“Mungkin karena beliau ingin kamu hidup jauh dari semua hal aneh di sini.”

Aku duduk diam.

Selama ini aku terus memikirkan cara melarikan diri.

Tetapi sekarang perasaanku berubah.

Aku tidak tega meninggalkan Laras sendirian menghadapi semuanya.

Malam berikutnya, suara ketukan di pintu kembali muncul.

Namun kali ini lebih keras.

Seluruh dinding gubuk bergetar.

Laras langsung bangun meski tubuhnya lemah.

“Dia datang lagi,” bisiknya.

Aku memberanikan diri mengambil kapak kecil di sudut ruangan.

Tetapi Laras menahan tanganku.

“Itu tidak akan berguna.”

Suara di luar berubah menjadi tawa pelan yang menyeramkan.

Lalu terdengar suara ayahku lagi.

“Raka… tolong Ayah…”

Aku memejamkan mata kuat-kuat.

Namun kali ini aku sadar.

Apa pun yang ada di luar sana sedang mencoba memancingku.

Laras berdiri di depan pintu sambil memegang liontin kecil.

Dia berbisik pelan dalam bahasa yang tidak kupahami.

Angin mendadak bertiup sangat kencang.

Suara di luar berubah marah.

Gubuk bergetar hebat.

Aku melihat bayangan besar bergerak di balik jendela.

Untuk sesaat, aku bisa melihat bentuk wajah mengerikan dengan mata gelap kosong.

Namun beberapa detik kemudian semuanya mendadak sunyi.

Laras jatuh lemas.

Aku segera menopangnya.

“Kamu harus pergi dari desa ini,” katanya pelan.

“Tidak.”

Dia menatapku heran.

“Kenapa?”

Aku menghela napas panjang.

“Karena sekarang aku mengerti kenapa ayahku pernah kembali ke sini.”

Mata Laras mulai berkaca-kaca.

Sejak malam itu, hubungan kami berubah.

Kami tidak lagi seperti dua orang asing yang dipaksa menikah.

Aku mulai benar-benar peduli padanya.

Beberapa hari kemudian, Pak Lurah datang ke gubuk.

Beliau membawa kabar buruk.

“Tempat di hutan itu mulai terbuka lagi,” katanya.

Warga desa terlihat sangat takut.

Malam berikutnya, seluruh desa berkumpul di dekat hutan.

Obor dinyalakan.

Kabut hitam perlahan muncul dari arah reruntuhan.

Aku berdiri di samping Laras.

Dia tampak sangat lemah, tetapi matanya tetap tenang.

“Kalau sesuatu terjadi, jangan ikut masuk ke sana,” katanya.

Aku menggeleng.

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Laras tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya, senyum itu terlihat hangat.

Saat kabut semakin tebal, suara-suara aneh mulai terdengar dari dalam hutan.

Warga mundur ketakutan.

Namun Laras berjalan maju sendirian.

Aku ikut di belakangnya.

Kami sampai di reruntuhan tua.

Lubang besar itu kini mengeluarkan asap hitam pekat.

Udara terasa berat.

Tiba-tiba bayangan hitam besar muncul perlahan.

Wujudnya jauh lebih mengerikan dibanding sebelumnya.

Suara-suara aneh terdengar bersamaan.

Aku hampir tidak sanggup berdiri.

Namun Laras melangkah maju.

Pola bercahaya di tangannya semakin terang.

Saat itulah aku sadar.

Selama ini Laras bukan sekadar penjaga desa.

Dia adalah penghalang terakhir agar sesuatu itu tidak keluar ke dunia luar.

Dan dia telah menanggung semuanya sendirian selama bertahun-tahun.

Bayangan hitam itu bergerak mendekat.

Laras hampir jatuh.

Tanpa pikir panjang aku memegang tangannya.

Aneh sekali.

Saat tangan kami bersentuhan, cahaya di pergelangan tangannya menyebar.

Kabut di sekitar kami bergetar.

Bayangan hitam itu tiba-tiba berhenti.

Angin besar berputar di sekitar reruntuhan.

Aku bisa mendengar suara warga berteriak dari kejauhan.

Laras menatapku kaget.

“Raka…”

Aku tidak tahu apa yang terjadi.

Tetapi saat itu aku merasa ada kehangatan aneh mengalir di tubuhku.

Cahaya semakin terang.

Bayangan hitam itu perlahan mundur.

Lalu terdengar suara dentuman keras dari dalam sumur tua.

Kabut hitam mulai menghilang satu per satu.

Hutan kembali sunyi.

Beberapa detik kemudian semuanya selesai.

Aku jatuh terduduk sambil terengah-engah.

Laras memandang sekeliling dengan mata tidak percaya.

Pak Lurah dan warga perlahan mendekat.

Wajah mereka campur antara lega dan bingung.

Tetua desa yang paling tua kemudian berkata pelan, “Kutukan itu akhirnya melemah.”

Aku menatap Laras.

Dia terlihat sangat lelah tetapi tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke desa itu, aku melihat wajahnya benar-benar tenang.

Hari-hari setelah kejadian itu terasa berbeda.

Kabut aneh tidak pernah muncul lagi.

Warga mulai berani keluar malam.

Anak-anak tidak lagi takut mendekati gubuk Laras.

Perlahan suasana desa berubah menjadi lebih hangat.

Suatu sore aku duduk bersama Laras di depan gubuk sambil memandang matahari terbenam.

“Apa kamu masih ingin pergi dari desa ini?” tanyanya pelan.

Aku terdiam beberapa saat.

Dulu jawabannya pasti iya.

Namun sekarang, entah kenapa tempat ini terasa seperti rumah.

Aku menoleh ke arah Laras.

Perempuan yang awalnya kupikir hanya sosok misterius di gubuk tua ternyata menyimpan keberanian luar biasa.

Dia telah hidup dalam kesepian demi melindungi banyak orang.

Aku tersenyum kecil.

“Kalau aku pergi, siapa yang akan memperbaiki atap gubuk ini?”

Laras tertawa pelan.

Suara tawanya sederhana, tetapi membuat suasana terasa hangat.

Malam mulai turun perlahan.

Angin dari hutan bertiup lembut.

Untuk pertama kalinya, suasana malam di Desa Kertajaya tidak lagi terasa menakutkan.

Aku akhirnya mengerti satu hal.

Kadang seseorang yang terlihat paling lusuh dan dijauhi justru menyimpan hati paling tulus.

Dan kadang takdir mempertemukan kita dengan seseorang bukan untuk menghancurkan hidup, melainkan untuk menunjukkan arti keberanian, kesetiaan, dan rumah yang sebenarnya.

Di bawah langit malam desa itu, aku memandang Laras yang tersenyum tenang di sampingku.

Lalu aku sadar.

Fakta paling mengejutkan tentang dirinya bukanlah semua rahasia mistis yang tersembunyi.

Melainkan kenyataan bahwa perempuan yang dulu dipaksa menjadi istriku ternyata perlahan menjadi orang yang paling ingin kujaga seumur hidup.